jl Kaliurang km 5, gg Pandega Bakti 20 Yogya
- Arti Logo GKJ
- Sejarah
- Jadwal Kebaktian
- Jadwal poliklinik
- Warta Jemaat
- Arsip Liturgi
- Kesaksian
- Komisi Anak
- Komisi Remaja
- Komisi Pemuda
- Komisi Dewasa
- Komisi Adiyuswo
- Komisi PWJ
- Komisi Lainnya
- Berita L P M
- Galeri Foto
- How to find us
 
partner
110mb free hosting


                      KONSEP DIRI YANG ALKITABIAH
                      Diringkas oleh: Dian Pradana

   Dunia ini semakin egois. Bahkan, Rasul Paulus mengatakan bahwa
   "manusia akan mencintai dirinya sendiri ... daripada menuruti Allah"
   (2 Tim. 2:3,4). Satu hal yang jelas dan nyata adalah bahwa kita
   semua menjadi egois dan terikat dengan kata-kata seperti aktualisasi
   diri, penghargaan diri, dan pemenuhan diri.

   Lalu apa solusinya? Apa yang kita perlukan? Satu-satunya jalan
   adalah kita harus dapat melihat diri kita dalam terang anugerah
   Tuhan dan tidak ikut terseret dalam keegoisan dunia.

   Alkitab juga menyatakan agar kita berpikir mengenai diri sendiri
   dengan benar. Roma 12:3 mengatakan, "Berdasarkan kasih karunia yang
   dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara
   kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada
   yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu
   rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang
   dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing."

   Konsep diri yang alkitabiah, yang berkembang dari konsep kita
   mengenai Tuhan dan anugerah-Nya, adalah sesuatu yang penting agar
   kita memiliki kedewasaan rohani yang kokoh untuk melayani, mampu
   memimpin sesama, dan khususnya supaya kita mampu menjadi pelayan.
   Oleh karena itu, agar kita dapat memimpin dan melayani sesama dengan
   efektif, kita harus mengenal diri kita secara alkitabiah. Hal ini
   berarti kita harus mengetahui kemampuan dan keterbatasan kita,
   sekaligus mengingat pandangan Tuhan yang alkitabiah, anugerah-Nya
   kepada kita melalui Kristus, dan menyadari bahwa kecukupan kita
   selalu ada di dalam Tuhan, kemampuan dan kelemahan kita tidak akan
   menambahinya.

   Mengapa kita perlu berpikir demikian? Karena tanpa pengenalan diri
   yang cukup, kita akan terombang-ambing di antara ketakutan dan
   gengsi atau antara ketidaknyamanan dan kepercayaan diri yang
   berlebihan. Tanpa pengenalan diri yang cukup, kita akan berkutat
   dalam keriuhan aktivitas untuk mencoba merasa diri baik karena
   prestasi kita. Kedewasaan iman Paulus dan kualifikasinya sebagai
   seorang pemimpin terlihat dalam kebebasannya melayani sesama, karena
   anugerah-Nya, ia telah dipanggil sebagai pelayan, ia tidak mencoba
   menutupi citra dirinya yang buruk atau membuat orang lain terkesan
   dengan kehebatannya (lih. 1 Kor. 4; 1 Tes. 2:1-6).

   Perasaan rendah diri akan merampas energi, kekuatan, dan perhatian
   kita untuk berhubungan dengan orang lain karena kita terserap oleh
   perasaan kita -- bahwa kita kurang baik. Hal itu benar, terutama
   saat kita ada di hadapan orang yang mengingatkan akan kekurangan
   kita. Dalam situasi tersebut, kita menjadi sangat sadar diri
   sehingga kita tidak dapat memberikan perhatian yang cukup kepada
   orang lain. Akibatnya, kita mungkin akan dicap sebagai orang yang
   acuh tak acuh dan sombong. Perasaan rendah diri menghalangi kita
   untuk mengasihi dan memedulikan sesama.

   Orang dengan pengenalan diri yang kurang akan melihat pendapat orang
   lain, baik itu pujian atau kritik, sebagai faktor penentu dalam
   pikiran atau perasaan mereka tentang diri mereka sendiri. Orang yang
   tidak dapat mengenali diri sendiri adalah budak pendapat orang lain.
   Mereka tidak bebas menjadi diri sendiri.

   Apa yang kita perlukan adalah kepercayaan diri yang didasarkan pada
   pengenalan akan Tuhan dan penyerahan diri kepada-Nya, sambil juga
   menyadari bahwa kita masing-masing adalah makhluk ciptaan-Nya yang
   unik, baik secara fisik maupun spiritual.

   Tapi bagaimana kita bisa mencapai keseimbangan kedewasaan rohani
   tersebut? Untuk dapat mencapainya, ada beberapa hal yang perlu kita
   ketahui, terapkan, dan hubungkan. Setidaknya ada tiga kebenaran
   alkitabiah yang diperlukan agar kita memiliki konsep pengenalan diri
   yang dewasa. Dengan memahami dan menghubungkan kebenaran alkitabiah
   ini, seseorang akan mampu menerima diri apa adanya tanpa rasa takut
   dan gengsi, atau tanpa ketidaknyamanan maupun pemahaman yang salah
   dalam kesombongan atau kearogansian.

ORANG PERCAYA YANG DEWASA ROHANI MEMILIKI KONSEP ALKITABIAH MENGENAI
CITRA DIRI MEREKA.

   Seseorang yang dewasa rohani mendapatkan rasa penghargaan atas
   dirinya dari persekutuan mereka dengan Yesus Kristus dalam segala
   pemenuhan, talenta, dan kecukupan dalam hidup yang disediakan-Nya,
   serta pemahaman bahwa Dia memunyai kehendak dan tujuan bagi setiap
   orang percaya (band. Rm. 12:3; Ef. 1:3; 2:10; Kol. 2:10 dengan 1
   Tim. 1:12-15; 1 Kor. 15:9-11). Sayangnya, banyak orang menganggap
   diri mereka menurut potret yang mereka kembangkan dari pesan yang
   mereka terima sejak mereka kecil dalam lingkungan -- orang tua,
   guru, teman, dan lain-lain. Hal itu mungkin baik, mungkin juga
   buruk, mungkin benar, atau mungkin salah, namun itulah hal yang
   mendasari bagaimana orang berpikir tentang diri mereka sendiri.
   Bagian dari proses pendewasaan sebagai orang percaya adalah
   kemampuan untuk melihat diri kita yang baru dalam Kristus, yang
   telah diciptakan ulang seturut dan dalam gambaran Allah untuk
   kehidupan yang baru (lih. Ef. 4:21-24; Kol. 3:9-11).

   1. Cara untuk mencintai diri berdasarkan latar belakang agama, suku,
      atau status sosial bukanlah kebencian terhadap diri sendiri atau
      penolakan atas nilai diri, namun kesadaran akan di mana dan
      bagaimana nilai diri tersebut diperoleh melalui anugerah Tuhan
      kepada kita melalui Kristus.

   2. Cara untuk menghargai diri (berdasar status sosial, performa,
      penampilan, latar belakang agama, dll..) bukanlah penyangkalan
      diri, melainkan pemahaman dan penerimaan anugerah dan kecukupan
      yang diberikan-Nya pada kita dalam Kristus yang adalah
      satu-satunya yang memberikan kita makna dan nilai yang sejati.

   3. Cara untuk memenuhi diri bukanlah hidup yang tanpa arti dan
      tujuan, melainkan hidup yang sepenuhnya terpikat dalam Tuhan dan
      tujuan-Nya sehingga pemenuhan diri dapat dicapai secara alami
      (atau rohani) melalui hubungan dan keterlibatan dengan Tuhan,
      bukan dalam keasyikan akan diri sendiri.

   Perhatikan ayat-ayat berikut: Rm. 12:3; Kej. 1:26-27; Maz. 139:12;
   Ams. 16:1-4, 8; Ef. 1:3, 6; 2:10; Kol 2:10; Rm. 12:4; 1 Kor. 12; Ef.
   4:7; 1 Pet. 4:10; Kol. 3:10; 2 Kor. 3:18.

   Apa arti semua itu? Artinya kebenaran rohani itu harus memberikan
   sebuah tujuan spesial dan keyakinan akan kuasa Tuhan dalam hidup
   setiap orang percaya. Masalahnya banyak orang cenderung melihat
   talenta, prestasi, dan popularitas orang lain, kemudian mengukur
   diri dengan apa yang mereka lihat pada orang lain itu. Kita
   membandingkan orang dengan orang. Hal ini tidak hanya akan membuat
   kita tidak melihat anugerah dan rencana-Nya, namun hal ini juga akan
   menimbulkan perasaan inferioritas, kecemburuan, dan gengsi. Hal ini
   berujung pada prinsip penting kedua dalam kita memandang diri secara
   alkitabiah.

ORANG PERCAYA YANG DEWASA IMAN MENGGUNAKAN TOLOK UKUR YANG BENAR UNTUK
MENILAI KESUKSESAN.

   Tuhan Yesus dan prinsip-prinsip Injil harus menjadi tolok ukur kita
   untuk mengukur nilai dan citra diri kita (band. 1 Kor. 3:4-7;
   4:1-5; 15:9-11; 2 Kor. 10:12; Ef. 4:13). Berikut adalah beberapa
   alasan mengapa tolok ukur yang benar itu diperlukan.

   1. Kita adalah alat Tuhan. Keefektifan selalu merupakan hasil karya
      Tuhan, bukan kerja keras, cara kerja, kepandaian, dan hikmat kita
      (1 Kor. 3:4-7).

   2. Apa yang dilihat Tuhan adalah kesetiaan kita terhadap
      anugerah-Nya! Apa yang dilihat Tuhan adalah kesetiaan kita dalam
      menggunakan kesempatan, kemampuan, dan pelayanan yang Ia berikan
      pada kita dan bukan kesuksesan yang sering kali diukur oleh
      manusia (Luk. 12:42; 2 Tim. 2:2; 1 Kor. 4:1-2).

   3. Segala yang kita punya adalah karena anugerah Tuhan. Apa pun yang
      kita punya -- kemampuan, talenta, pelayanan, dan bahkan
      kesempatan -- adalah anugerah Tuhan, bahkan udara yang kita hirup
      (Rm. 12:3a; 1 Kor 15:9-11).

   4. Yesus Kristus adalah standar dan tujuan kita, bukan manusia.
      Manusia dapat menjadi teladan keilahian, namun itu dapat terjadi
      saat manusia itu membawa kita kepada Kristus dan menjadi
      seperti-Nya (1 Kor. 11:1). Kristus, sebagai standar kita adalah
      standar kualitas, namun kita tidak mengukurnya dengan pendapat
      dan standar ukuran yang digunakan manusia. Kita mengukurnya
      dengan ajaran Injil, kedewasaan karakteristik moral keilahian.
      Bagi kehidupan Kristen, Kristus adalah standar pokok bagi
      pertumbuhan dan kedewasaan dan porsi yang kita terima seiring
      kita bertumbuh di dalam-Nya dan menjadi seperti-Nya oleh anugerah
      Allah. Kita juga harus menjadi pelayan yang setia (1 Kor. 4:1-3).
      Artinya, kita tidak boleh mengukur diri atau mengizinkan diri
      diukur oleh standar manusia seperti yang diungkapkan pada ayat
      itu. Tuhan mungkin menggunakan berbagai cara untuk membantu kita
      belajar dan bertumbuh dalam standar keilahian, namun ujian akhir
      kita adalah Injil, bukan pendapat manusia.

   5. Standar yang benar itu penting bagi stabilitas rohani. Memiliki
      dan menggunakan standar yang benar untuk keefektifan dan
      kesuksesan itu penting untuk menghasilkan pertumbuhan, kedewasaan
      rohani, dan kepemimpinan atau pelayanan yang sukses. Mengapa?
      Karena tanpa standar yang benar itu, Anda akan mengukur diri,
      nilai, kemajuan, dan kesuksesan Anda menggunakan standar manusia
      dan respons mereka terhadap Anda. Biasanya, standar manusia
      adalah hal-hal seperti angka, nama, kepribadian, karisma, dan
      sejenisnya. Itu salah. Paulus menulis, "Memang kami tidak berani
      menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan
      orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka
      mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan
      dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!" (2
      Kor. 10:12). Mengapa bodoh? Karena standar ukuran yang salah akan
      membahayakan kemampuan kita dalam melayani dan melakukan tugas
      kita sebagai berkat bagi sesama menurut tujuan Tuhan (band. Yer.
      1:17-19; 1 Kor. 4:1-5; dengan 2 Kor. 10:0 dan 6:11-13).
      Sederhananya, standar kesuksesan yang salah selalu berujung pada
      sejumlah masalah yang merusak pelayanan yang efektif dan
      kehidupan rohani. Standar yang salah biasanya menimbulkan ambisi
      egois, persaingan tidak sehat (Fil. 1:17), rasa bersalah,
      frustrasi, depresi, perasaan gagal, takut gagal yang berujung
      pada penarikan diri dan rendah diri.

ORANG PERCAYA YANG DEWASA IMAN HIDUP OLEH IMAN DALAM KEBENARAN
ALKITABIAH.

   1. Mereka akan mewujudnyatakan kebenaran identitas mereka dalam
      Kristus. Alkitab mengajarkan bahwa setiap orang Kristen
      diciptakan dalam gambar Tuhan (Kej. 1:26-27), bahwa setiap orang
      percaya dibentuk Tuhan secara unik sejak dalam kandungan (Maz.
      139:12), bahwa setiap orang percaya dalam Kristus, telah
      diciptakan ulang dan adalah ciptaan rohani baru dalam Yesus
      Kristus (2 Kor. 5:17), dan bahwa melalui iman dalam Kristus,
      setiap orang Kristen adalah anak-anak Tuhan yang baru lahir (Yoh.
      1:12-13; 3:3-6; 1 Pet. 1:3, 23;). Sungguh suatu identitas yang
      luar biasa! Nilai seperti itu tidak dapat dibandingkan dan tidak
      dapat diukur dari respons dan pendapat manusia.

   2. Mereka akan bersandar dan mewujudnyatakan kemampuan yang
      diberikan Tuhan kepada mereka -- talenta alami dan bakat rohani.
      Dalam Mazmur 139:1-12, pemazmur menyatakan imannya dalam hikmat
      Allah atas semua kehidupan. Pemazmur juga percaya pada tujuan
      pribadi Allah dalam hidupnya. Tuhan tidak hanya Pencipta dan
      Penguasa, tapi juga Yang Kekal yang secara intim peduli pada
      manusia yang telah Ia ciptakan bahkan sejak dari kandungan dan
      sebelumnya. Pemazmur juga menyadari bahwa ia diciptakan unik dan
      meresponi apa yang diciptakan dan diberikan Allah-Nya dengan
      ucapan syukur.

   3. Orang percaya yang dewasa iman juga akan menyatakan tujuan Allah
      dan sifat dari kehidupannya. Aktivitas kreatif dan keterlibatan
      Tuhan secara alami menyertakan tujuan atas keberadaan kita serta
      tempat dan waktu di mana kita berada sekarang. Jika kita
      benar-benar tahu dan menyatakan siapa kita di dalam Kristus,
      mengapa kita ada (duta-Nya), dan ke mana tujuan kita (kekekalan),
      kita harus mampu berserah dan tenang dalam melayani dan mengasihi
      sesama tanpa memedulikan keberhasilan orang lain dan respons yang
      ditujukan pada kita. Ini artinya mengamalkan kesempurnaan Kristus
      dan keunikan kita: (a) identitas kita dalam-Nya, (b) kemampuan
      rohani yang berasal dari-Nya, (c) tujuan Allah untuk setiap orang
      percaya karena-Nya, (d) dan anugerah surgawi yang datang
      dari-Nya.

   4. Mereka akan memiliki tingkat kepercayaan diri dalam Tuhan;
      hadirat dan pemenuhan Allah menjadi sumber kehidupan dan
      pelayanan mereka. Adalah penting untuk kita mengenal diri
      sendiri, apa yang dapat dan tidak dapat kita lakukan, namun di
      atas semuanya itu, kita harus memiliki keyakinan dalam Tuhan yang
      diikuti nyali untuk bergerak maju. Hal ini penting bagi pelayan
      itu sendiri dan yang dilayaninya (Fil. 4:13; 1 Kor. 3:6; 4:1-5; 2
      Kor. 2:14). Tak seorang pun dari kita merasa cukup dengan diri
      sendiri; tak peduli siapa kita, latihan yang kita lakukan,
      keunggulan fisik kita, kedewasaan iman kita, atau bakat dan
      talenta kita. Hal ini diilustrasikan dengan luar biasa di
      2 Korintus 2:14-16; 3:4-6, dan 2 Korintus 12:9-10. Ayat-ayat itu
      mengingatkan kita bahwa Tuhan akan menggunakan kemampuan kita,
      seperti Ia menggunakan kemampuan mengajar dan ketajaman pikiran
      Paulus -- keduanya adalah anugerah Tuhan -- namun terkadang Ia
      memberikan kelemahan pada kita dan entah bagaimana berkarya dalam
      kita untuk menunjukkan anugerah dan kuasa-Nya.

   5. Mereka akan berusaha menemukan dan membenahi kelemahan yang dapat
      diperbaiki. Meski semua orang percaya memiliki talenta dan
      kelebihan, mereka juga memunyai kelemahan. Beberapa di antaranya
      dapat diubah dan beberapa tidak. Bagian dari kedewasaan iman
      adalah menemukan kelemahan yang dapat diubah dan kemudian
      berusaha memerbaikinya dengan anugerah Tuhan sambil belajar untuk
      hidup dengan kelemahan yang tidak dapat diubah. Tuhan menciptakan
      apa adanya kita, tidak dalam keberdosaan kita, namun dalam
      kelebihan dan kelemahan kita.

      Kita harus melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan dengan
      kelebihan kita (1 Kor. 15:9-10). Artinya, kita harus puas dengan
      kelebihan kita dan jangan pernah iri dengan kelebihan orang lain
      yang lebih dari kita. Namun demikian, kita harus berusaha
      mengubah kelemahan yang bisa kita ubah melalui anugerah Tuhan dan
      seturut dengan standar Alkitab, bukan dunia. Tidak hanya itu,
      kita juga harus mensyukuri apa yang tidak dapat kita ubah.

      Pemahaman tentang konsep di atas akan membawa kita kepada
      setidaknya empat langkah penting:

      a. Kita harus bersyukur kepada Tuhan atas diri kita -- makhluk
         unik dan spesial yang dibekali tujuan hidup (Ef. 2:10; Maz.
         39:14; Rm. 12:3; 1 Pet. 4:10).
      b. Kita harus berusaha mengetahui kekuatan kita dan mengembangkan
         kemampuan kita sampai pada puncaknya. Dengan kata lain, kita
         harus menjadi yang terbaik menurut karya kreatif Tuhan dalam
         hidup kita.
      c. Kita harus memerbaiki apa yang ada dalam hidup kita yang dapat
         kita benahi sebagai pelayan yang baik, yang ada karena
         anugerah Tuhan dan menurut arahan dan standar Alkitab.
      d. Kita harus menerima apa yang tidak dapat kita ubah, percaya
         kepada karya Allah, dan memaksimalkan kelebihan orang lain
         dalam Tubuh Kristus.

      Hal-hal yang tidak dapat kita ubah: Beberapa kelemahan atau
      kekurangan yang tidak dapat kita ubah; bukan masalah moral atau
      masalah dengan dosa. Malahan, kekurangan ini adalah beberapa hal
      dalam hidup kita yang tidak dapat kita ubah, di antaranya:
      leluhur, sejarah, ras, kebangsaan, kelamin, keluarga, fitur
      fisik, kemampuan mental (bakat alami, keterbatasan mental, dan
      talenta), ukuran fisik, kemampuan dan cacat tubuh, serta penuaan
      dan kematian.

      Hal-hal yang dapat kita ubah: Hal-hal ini meliputi hal-hal yang
      dapat kita ubah. Dalam beberapa kasus, hal-hal ini menjadi
      masalah dalam kehidupan rohani seseorang sementara dalam kasus
      lain tidak. Di antaranya adalah berat badan, kondisi fisik,
      kekuatan fisik, karakter atau kedewasaan rohani, pengetahuan dan
      kegunaannya, pakaian, perawakan, sikap dan sudut pandang,
      ekspresi wajah, kebiasaan atau pola hidup, keterampilan, dll..
      Jelas semua yang tidak sesuai dengan Alkitab dan kehendak moral
      Tuhan adalah dosa dan harus diubah melalui anugerah Tuhan (Rm.
      6:1; Ef. 4:22; Kol. 1:9; 3:4; Ams., Maz. 119) (t/Dian)

   Diterjemahkan dan diringkas dari:
   Nama situs: bible.org
   Judul asli artikel: A Biblical Concept of Oneself
   Penulis: J. Hampton Keathley, III , Th.M.
   Alamat URL: http://www.bible.org/page.php?page_id=447

==================================**==================================
ARTIKEL 2

                    MENGENAL DIRI, LUAR DAN DALAM

   Bertahun-tahun yang lalu, saat saya masih menjadi pendeta muda dan
   menjadi pembicara dalam seminar-seminar, saya dan istri menonton
   film berjudul "A Man for All Season", karya Robert Bolt yang
   mengisahkan kehidupan Thomas More di Inggris pada abad ke-16. Saya
   terpana akan penggambaran Bolt terhadap pria yang integritas dan
   kelebihannya di bawah tekanan Raja Henry VIII membuatnya menjadi
   pemimpin dan menjadi penentu masa depan generasinya. Setelah melihat
   film itu, saya membaca segala macam literatur yang dapat saya
   temukan tentang Thomas More.

   Saya tidak perlu membaca terlalu banyak untuk mengetahui bahwa More
   adalah seseorang yang jauh lebih kompleks daripada karakter yang ada
   di film. Hal itu membuat saya kecewa dengan karakter Thomas More
   yang ada di film. Namun demikian, saya sangat menyukai film
   tersebut, dan saya pun membeli buku yang berisi skenario dari film
   karya Bolt tersebut. Beberapa dialog di dalamnya sangat cocok
   digunakan sebagai ilustrasi bagi khotbah-khotbah saya selama
   beberapa dekade.

   Dalam kata pengantarnya, Robert Bolt mengapresiasi karakteristik
   pemeran utama, Thomas More, yang telah membuatnya menjadi seperti
   sekarang. "Saat saya menulis tentangnya (More), saya menemui bahwa
   ia adalah seseorang yang memiliki keteguhan akan dirinya sendiri.
   Dia tahu di mana dia harus mulai dan berhenti, kapan dia melanggar
   batas dan apa yang melanggar batas keyakinannnya."

   Ia tahu dari mana ia harus memulai dan berhenti; sungguh luar biasa.
   Mengenal diri sendiri secara menyeluruh, More mampu menolak segala
   jenis suap dan ancaman yang dilayangkan padanya untuk membujuk dan
   memaksanya mengingkari suara hatinya sendiri. Seumur hidupnya, ia
   "keukeuh" dan penuh integritas.

   Yunani kuno pun menekankan pentingnya seseorang untuk mengenal diri
   sendiri. Kita tidak banyak mendengar mengenai hal itu pada zaman
   sekarang, dan itu sangat disayangkan karena sebenarnya sakit hati
   dan tragedi dalam kehidupan dapat dicegah jika seseorang mengenali
   dirinya sendiri.

   Berikut adalah beberapa pertanyaan untuk membantu kita mengetahui
   diri sendiri dan apakah kita telah mengenal diri sendiri dengan
   baik.

   1. Apa kelebihan Anda? Hal ini berhubungan dengan kekuatan, talenta,
      bakat, dan semacamnya.

   2. Apa kelemahan Anda? Lebih baik jangan pernah lakukan hal-hal yang
      tidak dapat Anda lakukan.

   3. Apa kelebihan Anda yang paling menonjol? Dalam hal apa Anda
      merasa paling kompeten?

   4. Apa kelemahan Anda yang paling menonjol? Hal-hal apa yang perlu
      Anda waspadai kalau-kalau kelemahan Anda itu menghalangi jalan
      Anda?

   5. Apa yang paling Anda yakini? Temukan dua keyakinan yang paling
      Anda yakini dari banyaknya keyakinan yang Anda genggam.

   6. Apa yang paling tidak Anda yakini? "Saya tidak akan pernah
      memercayainya," kita semua pasti pernah mengucapkan kata-kata
      itu. Apa yang benar-benar tidak Anda yakini?

   7. Apa yang membuat Anda menyangkal Tuhan? Pertanyaan ini adalah
      cara lain untuk menanyakan, "Berapa harga Anda?". Tentang hal
      ini, para pelajar Alkitab akan lansung mengarah kepada subjek
      pembicaraan antara Tuhan dan Iblis di Ayub 1-2.

   8. Apa yang membuat Anda tidak ke gereja dan berpaling dari
      kehidupan kristiani Anda? Banyak jemaat gereja yang melakukan hal
      itu. Apa yang membuat Anda juga berbuat demikian?

   Berikut adalah sebagian dari adegan dalam "A Man For All Seasons".
   Thomas More disapa oleh pengikutnya yang bernama Richard Rich,
   seseorang yang hidup sendiri dan selalu berharap naik pangkat.

     Rich: "(Banyak orang bilang) Teman Sir Thomas, tapi masih belum
     punya kedudukan. Pasti ada yang tidak beres dengannya."

     Thomas More: "Dekan St. Paul menawarimu jabatan, dengan sebuah
     rumah, pelayan, dan lima puluh pound setahun."

     Rich dengan antusias bertanya, "Apa? Jabatan apa?" More menjawab,
     "Di sekolah yang baru." Rich berkata, "Jadi guru!"

     More: "Seseorang harus pergi ke tempat di mana ia tidak akan
     dicobai." Lalu dia mengangkat cangkir perak untuk memberinya toss
     dan minum.

     Rich menyukai cangkir itu, More memberitahunya bahwa cangkir itu
     buatan Italia dan ia pun memberikannya pada Rich, lalu berkata,
     "Kamu pasti akan menjualnya, ya 'kan?"

     Rich: "Hhmm ... ya, aku akan menjualnya." Rich akan membeli jubah
     seperti milik More. More mengatakan bahwa harga cangkir itu cukup
     untuk membeli beberapa jubah.

     More: "Cangkir itu dikirim kepadaku beberapa waktu yang lalu oleh
     seorang wanita. Kini dia sedang ada dalam proses hukum di
     pengadilan pemerintah. Itu suap, Richard."

     Kemudian More berkata, "Tapi Richard, di pemerintahan, kamu akan
     ditawari segala jenis barang. Aku dulu pernah ditawari sebuah
     desa, dengan pabrik, dan rumah besar, dan tahu sendirilah --
     lencana, aku tidak heran. Mengapa tidak mau jadi pengajar? Kamu
     akan jadi pengajar yang baik. Bahkan mungkin pengajar yang hebat."

     Rich: "Dan jika aku jadi pengajar yang hebat, siapa juga yang akan
     mengenalku?"

     More: "Kamu, murid-muridmu, teman-temanmu, Tuhan. Bukan citra yang
     buruk, yang .... Oh, dan hidup yang tenang."

     Pada akhir cerita, saat Thomas More diadili karena menentang raja
     dan Richard Rich bersaksi menentangnya, ia melihat Richard memakai
     medali yang melingkar di lehernya. Dia berkata, "Kamu memakai
     lencana pejabat pemerintahan. Boleh aku melihatnya." Sesaat
     setelah itu: "Red Dragon. Apa ini?"

     Thomas Cromwell menjawab, "Sir Richard ditunjuk sebagai Mahkamah
     Agung Wales."

     More menatap orang kaya baru yang masih muda itu dan berbisik,
     "Untuk Wales? Mengapa Richard, tidak ada untungnya bagi seseorang
     untuk memberikan jiwanya pada seluruh dunia ... apalagi untuk
     Wales!"

   Perlu seumur hidup untuk memahami dan benar-benar mengenali diri
   sendiri. Alasannya mengapa demikian adalah karena kita selalu
   berubah, bertumbuh dan belajar, gagal dan berhasil, mulai dan
   berhenti, selalu lebih baik atau lebih buruk dari yang sebelumnya.

   Saat Daud yang masih belia berdiri menghadapi Goliat, ia menunjukkan
   bahwa ia mengenali kekuatannya -- keberanian, keterampilan dengan
   ketapel, iman pada Tuhan -- dan kelemahannya -- ukuran, kurangnya
   senjata, kurangnya pengalaman bertarung dengan Goliat. Dari
   seberang, ia menatap sang Goliat dengan kekuatan yang luar biasa --
   ukuran tubuh, kekuatan fisik, senjata, tombak, pedang, dan perisai
   -- namun ada satu kelemahan, matanya tidak tertutup oleh perisainya.
   Saat Daud melihat tempat di mana ia bisa melemparkan batunya, dia
   memilih kelemahan utama lawannya dan melemparkan batu dengan
   ketapelnya di daerah antara kedua mata.

   Tidak cukup untuk mengetahui kekuatan-kekuatan kita dan
   menggunakannya dengan baik. Jika kita tidak mengetahui kelemahan
   kita dan melindungi diri dengan menjaga dan memerhatikan kelemahan
   itu, kita akan jatuh saat kita melakukan apa yang baik -- dan akan
   sangat terkejut dalam prosesnya.

   Pada tahun-tahun mendatang, saat Daud jatuh dalam dosa dengan
   Batsyeba, dan kemudian melakukan banyak kesalahan lagi saat dia
   berusaha menutupi dosanya, ia tidak lagi mengenal dirinya sendiri
   seperti saat ia masih muda. Usia dan pengalaman telah mengubah
   kekuatannya dan menghadirkan kelemahan-kelemahan baru kepadanya.
   Keegoisan dan nafsu seksualnya membuatnya jatuh, seperti Goliat.

   Saya sering kali geli dengan cara beberapa orang berdebat mengenai
   elemen dalam Yesus dan karakter Allah. Apa yang ada di jiwa manusia
   yang membuat kita berpikir bahwa kita dapat memahami Allah sementara
   kita tidak mengenal diri sendiri?

   Seseorang pernah bertanya kepada teman Albert Einstein mengenai
   apakah betul hanya sepuluh orang di dunia yang benar-benar memahami
   Albert Einstein. Ia menjawab, "Oh, salah. Ada sekitar dua puluh
   orang, namun Einstein tidak termasuk di dalamnya." (t/Dian)

   Diterjemahkan dari:
   Nama situs: Joe McKeever
   Judul asli artikel: Leadership Principle No. 12 -- Know Yourself
   Inside and Out
   Penulis: Joe McKeever
   Alamat URL: http://www.joemckeever.com/mt/archives/000606.html

==================================**==================================
INSPIRASI

                         MENYADARI POTENSI DIRI

   Seorang pembicara di seminar di Amerika Serikat sering kali
   mengajukan sejumlah pertanyaan yang membuat orang berpikir ulang
   tentang kehidupannya. Perkenankanlah saya mengajukan kembali
   pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada Anda. Pertama, seberapa
   berhargakah hidup Anda? Kedua, apakah waktu merupakan sesuatu yang
   penting bagi Anda? Ketiga, mana yang lebih berharga, gedung tempat
   Anda berada sekarang atau hidup Anda? Keempat, berapa waktu yang
   diperlukan untuk merancang gedung tempat Anda sekarang berada?
   Kelima, berapa lama waktu yang Anda gunakan untuk merancang hidup
   Anda? Biasanya, orang akan menjawab bahwa waktu yang digunakan untuk
   merancang gedung lebih lama daripada merancang kehidupannya. Ironis!
   Sebagai orang beragama, saya sangat percaya bahwa Tuhan telah
   memberi setiap orang potensi atau talenta tertentu. Saya juga
   percaya, salah satu cara terbaik dalam bersyukur ialah terus
   mengembangkan talenta tersebut dan menjadikannya berguna bagi
   sesama. Bukan membandingkan talenta kita dengan orang lain!
   Bagaimanakah dengan potensi yang Anda miliki? Sudahkah Anda
   berkomitmen untuk terus mengembangkannya?

   Diambil dari:
   Judul buku: The Leadership Wisdom
   Penulis: Paulus Winarto
   Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Jakarta 2005
   Halaman: 17

dari e-Leadership

- Sinode GKJ Ping
- Sinode GKJ
- Sabda.org (Alkitab)
- PGI
- UKDW
- UKSW
- IAKM Marturia
- GKI Cyber
- Klasis Yogya Utara
- Gereja Kristen Jawa
- BPK Gunung Mulia
- Kiriman
- Artikel
- Humor
- Wisata & Kuliner
- Tip&Trik Praktis
- Info Buku
- Our Webservants
partner
avast! Virus Cleaner
Website Monitoring
Locations of visitors to this page