jl Kaliurang km 5, gg Pandega Bakti 20 Yogya
- Arti Logo GKJ
- Sejarah
- Jadwal Kebaktian
- Jadwal poliklinik
- Warta Jemaat
- Arsip Liturgi
- Kesaksian
- Komisi Anak
- Komisi Remaja
- Komisi Pemuda
- Komisi Dewasa
- Komisi Adiyuswo
- Komisi PWJ
- Komisi Lainnya
- Berita L P M
- Galeri Foto
- How to find us
 
partner
110mb free hosting


HARGA KEPEMIMPINAN
(e-Leadership by Sabda)

   Persiapan untuk menjadi seorang pemimpin mencakup banyak waktu
   mencucurkan air mata dan ujian-ujian yang menyakitkan (lihat Ibrani
   5:7-8). Ini karena Anda dilatih untuk bertahan terhadap
   tekanan-tekanan yang dahsyat yang menimpa seorang pemimpin.
   Kepemimpinan Kristen bukanlah hal yang penuh kesenangan/glamor;
   tetapi adalah suatu peperangan.

   Anda berperang dengan setan dan dunia. Anggota-anggota keluarga Anda
   bisa salah mengerti terhadap anda, sahabat-sahabat dan
   saudara-saudara seiman juga bersikap demikian. Seiring dengan ini,
   Anda juga akan sering mengalami celaan dari orang-orang karena
   mereka iri hati dan takut.

   Kisah yang tercatat dalam Alkitab mengenai Musa di dalam Kitab
   Bilangan, merupakan gambaran tepat tentang apa yang tercakup di
   dalam kepemimpinan. Musa bertanggung jawab untuk jemaat yang terdiri
   dari dua setengah juta manusia. Mereka merupakan kelompok yang
   terdiri dari para pengeluh, penggerutu, dan para pemberontak yang
   suka mencemarkan nama orang. Mereka ingin menyaksikan mukjizat,
   tetapi tidak lama kemudian menuntut sesuatu yang lain lagi.

   Bahkan, saudara laki-laki dan saudara perempuan Musa sendiri pun
   mencela dia dan menentang kepemimpinannya (dan sebagai akibatnya
   mereka dihukum).

   Tak mengherankan bila Allah memersiapkan Musa selama empat puluh
   tahun sebelum ia berada di posisi kepemimpinan. Jika Musa tidak
   melewatkan waktu selama empat puluh tahun di padang gurun yang sunyi
   bersama domba-domba mertuanya, ia tidak akan pernah menjadi pemimpin
   besar seperti itu.

DUA PEMIMPIN YANG TERBESAR
   Musa dan Elia adalah dua orang yang nampak di Bukit Pemuliaan
   bersama Yesus. Dari hal ini (dan bagian firman Tuhan lain) kita
   mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah dua pemimpin terbesar dan
   terpenting dalam Perjanjian Lama.

   Sejumlah tekanan yang diderita seorang hamba Allah dalam
   kepemimpinan dengan jelas dipaparkan melalui kehidupan Musa dan
   Elia.

MUSA
   Sekalipun Musa telah mengalami tahun-tahun persiapan yang lama,
   tekanan itu begitu dahsyatnya sampai Musa memohon agar Allah
   membunuhnya. Seseorang tidak mungkin berdoa demikian jika hidupnya
   tidak sangat sengsara.

   Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN, "Mengapa Kau perlakukan hamba-Mu
   ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di
   mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas
   seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau
   akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku:
   Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu,
   berjalan ke tanah yang Kau janjikan dengan bersumpah kepada nenek
   moyangnya? Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada
   seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata:
   Berilah kami daging untuk dimakan. Aku seorang diri tidak dapat
   memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat
   bagiku. Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau
   membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu,
   supaya aku tidak harus melihat celakaku." (Bil. 11:11-15)

   Hanya mereka yang sudah sampai pada pengalaman itu, yang
   mengetahuinya. Kepemimpinan selalu dibarengi dengan beban-beban yang
   sangat berat. Musa menjadi begitu tawar hati dan putus asa
   menghadapi situasi itu sehingga ia ingin mati saja.

ELIA
   Elia juga mengalami kelemahan seperti ini dalam pelayanannya.
   Terjadinya setelah kemenangannya yang terbesar, yaitu ketika ia
   minta api turun dari surga dan api itu telah membunuh empat ratus
   nabi-nabi Baal. Sungguh tak beruntung, lembah kekecewaan sering
   mengikuti pengalaman puncak gunung dari suatu kemenangan besar.

   Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia
   dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel
   menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya
   para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika
   besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama
   seperti nyawa salah seorang dari mereka itu." Maka takutlah ia, lalu
   bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke
   Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di
   sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan
   jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin
   mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku,
   sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (1 Raja-
   raja 19:1-4)

   Tuhan menjawab doa Elia dan membebaskan dia. Ia diangkat ke surga
   dalam sebuah kereta beberapa minggu setelah ia menyampaikan doa ini.
   Bagi saya, ini merupakan suatu pernyataan yang besar dari kasih dan
   pengertian Allah terhadap pemimpin-pemimpin-Nya, dan Ia menghormati
   Musa dan Elia dengan mengizinkan mereka berada pada saat
   kemuliaan-Nya (Matius 17).

   Ya, ada harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang pemimpin.
   Jika persiapannya nampak sulit, ingatlah hal ini: tekanan-tekanan
   yang berlaku bagi para pemimpin utama lebih sulit dari pada latihan
   yang membawa Anda ke sana.

   Diambil dan disesuaikan dari:
   Judul buku: Pembentukan Seorang Pemimpin
   Judul bab: Kepemimpinan -- Harganya dan Jerat-Jeratnya
   Penulis: Ralph Mahoney
   Penerbit: World Missionary Assistance Plan, California
   Halaman: 92 -- 94

==================================**==================================

           BAYAR HARGA UNTUK MENJADI PEMIMPIN YANG EFEKTIF
                    Diringkas oleh: Dian Pradana

   Keselamatan adalah satu-satunya hal dalam hidup yang gratis. Yang
   lainnya memiliki harga yang harus dibayar, dan harga yang terlabel
   dalam kepemimpinan itu sangat tinggi. Itulah salah satu alasan
   mengapa hanya ada sedikit pemimpin.

   Banyak orang ingin menjadi pemimpin. Kebanyakan orang mengincar
   posisi kepemimpinan. Namun demikian, sangat sedikit orang yang
   bersedia membayar harga untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif.

   Butuh waktu untuk menjadi pemimpin yang efektif. Pemimpin yang baik
   tidak berkembang dalam sehari. Anda tidak belajar menjadi pemimpin
   yang efektif dengan duduk di sebuah ruang kelas. Menguasai beragam
   teori dan prinsip kepemimpinan tidak membuat Anda menjadi pemimpin
   yang baik. Berpakaian seperti pemimpin sama sekali tidak ada
   kaitannya dengan menjadi seorang pemimpin yang baik.

   Saat saya lulus SMU, saya mencari pekerjaan musim panas untuk
   membantu orang tua membayar biaya kuliah. Saya melihat sebuah iklan
   di koran yang membutuhkan orang-orang untuk bekerja di sebuah
   pembangunan rumah. Posisi yang tersedia beragam; dari kuli sampai
   mandor.

   Saya melamar sebagai tukang bingkai, tapi sang pemilik mengatakan
   bahwa saya harus memulai sebagai kuli yang menurunkan kayu dari truk
   karena saya tidak memiliki pengalaman sebagai tukang kayu. Dia
   berkata, "Sekalinya Anda belajar tentang ragam ukuran kayu,
   bagaimana memakai meteran, dan familiar dengan bagaimana kami
   membangun rumah, kami akan memberikan posisi sebagai tukang bingkai
   kepada Anda."

   Tapi aku ingin mulai kerja sebagai tukang bingkai. Saya ingin memaku
   dan membantu mendirikan rumah; saya tidak mau menurunkan muatan truk
   dan membawakan kayu untuk orang-orang yang melakukan pekerjaan yang
   sebenarnya. Karena saya tidak mengerti makna dari pekerjaan yang
   sebenarnya, saya tidak mengambil pekerjaan itu dan bekerja di sebuah
   toko grosir; menata bahan makanan di rak dan mengarungi bahan
   makanan.

   Saya tidak menyadarinya saat itu, tapi sebenarnya saya memiliki
   masalah serius -- sebuah masalah yang membutuhkan bertahun-tahun
   untuk saya dapat mengatasinya. Saya tidak mau membayar harga untuk
   menjadi pengikut sebelum saya menjadi seorang pemimpin. Saya ingin
   membangun rumah, tapi saya tidak mau meluangkan waktu belajar
   membedakan kayu berukuran empat kali delapan dan balok silang
   lantai. Butuh beberapa tahun sebelum saya belajar pentingnya
   menggunakan waktu dan tenaga seperlunya untuk menjadi seorang
   pengikut yang baik, sehingga pada saatnya nanti saya dapat menjadi
   seorang pemimpin yang efektif.

   Saat Yesus menunjuk dua belas murid, Dia berkata, "Mari, ikutlah
   Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Mat. 4:19). Ia tidak
   berkata, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan secara otomatis menjadi
   penjala manusia." Murid-murid itu harus bersedia menginvestasikan
   waktu dan tenaga sebagai pengikut Yesus untuk menjadi penjala
   manusia.

   Hampir kedua belas murid tersebut adalah nelayan komersial sebelum
   menjadi pengikut Yesus Kristus. Mereka adalah nelayan profesional.
   Mereka menghidupi diri dan keluarga mereka dengan mencari ikan.
   Mereka mungkin menduduki posisi kepemimpinan dalam komunitas bisnis
   lokal.

   Namun demikian, untuk belajar bagaimana menjala manusia, mereka mau
   berada pada posisi bawah dan menjadi pengikut lagi sebelum mereka
   memenuhi syarat sebagai pemimpin dalam pekerjaan Tuhan. Hal itu
   adalah suatu prinsip yang penting dalam mengembangkan pemimpin
   spiritual.

   Kita harus selalu ingat bahwa apa pun prestasi seseorang sebagai
   pemimpin dalam dunia sekuler, ia akan harus merendahkan hati dan
   menginvestasikan waktu dan tenaganya untuk menjadi seorang pemimpin
   spiritual dalam pekerjaan Tuhan. Tidak ada jalan pintas dalam
   mengembangkan keterampilan memimpin.

   Selain waktu dan tenaga, ada harga-harga lain yang harus dibayar.

BERDIRI SENDIRI
   Banyak orang melihat pada gaya hidup glamor yang dimiliki oleh
   seorang pemimpin dan ingin menjadi pemimpin. Beberapa bahkan merasa
   bahwa mereka dipanggil untuk menjadi pemimpin. Mereka menginginkan
   kehormatan dan kuasa yang ada dalam posisi kepemimpinan. Namun
   demikian, tidak semua orang itu menyadari tanggung jawab besar yang
   diemban oleh seorang pemimpin.

   Pada pokok bahasan ini, saya harus mengatakan bahwa Alkitab dengan
   jelas mengatakan bahwa adalah hal yang bagus untuk bercita-cita
   menjadi seorang pemimpin. Perhatikan apa yang Paulus tulis pada
   Timotius: "Benarlah perkataan ini: 'Orang yang menghendaki jabatan
   penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.'" (1 Tim. 1:3)
   Tuhan jelas sangat senang saat seseorang bercita-cita menjadi
   pemimpin. Namun demikian, Ia juga ingin agar kita memerhitungkan
   harga yang harus dibayar. Tuhan berkata, "Sebab siapakah di antara
   kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu
   membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk
   menyelesaikan pekerjaan itu?" (Luk. 14:28)

   Salah satu harga yang harus Anda perhitungkan adalah kesediaan Anda
   untuk berdiri sendirian. Sebagai seorang pemimpin, ada saat-saat di
   mana Anda menjadi satu-satunya orang yang memerangi masalah. Bahkan
   saat tidak ada seorang pun yang bersedia menangani suatu masalah,
   seorang pemimpin harus selalu mau. Ini adalah salah satu harga besar
   yang harus dibayar oleh seorang pemimpin, dan itu jugalah salah satu
   hal yang membedakan seorang pemimpin.

   Saat orang-orang Israel berkumpul di Lembah Tarbantin untuk
   berperang melawan bangsa Filistin, tidak seorang pun di antara
   mereka, termasuk Raja Saul, bersedia maju melawan raksasa Filistin,
   Goliat. Saat Daud, seorang gembala muda, tiba di perkemahan
   orang-orang Israel dengan makanan dari rumah untuk
   saudara-saudaranya dan melihat situasi tersebut, ia menghampiri
   Raja Saul dan berkata, "Janganlah seseorang menjadi tawar hati
   karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu."
   (1 Sam. 17:32)

   Daud mau untuk maju melawan Goliat saat tidak ada seorang pun yang
   mau. Ada saat-saat di mana Anda, seperti Daud, akan mengajukan diri
   dan berkata, "Janganlah seorang menjadi tawar hati -- saya akan
   melakukannya"! Itulah harga yang terkadang akan Anda bayar untuk
   menjadi seorang pemimpin. Terkadang Anda diharuskan untuk berdiri
   sendirian menyelesaikan suatu masalah.

MELAWAN OPINI PUBLIK
   Seorang pemimpin tidak hanya harus berdiri sendirian dalam
   menghadapi suatu masalah, ia juga harus siap untuk berdiri melawan
   opini publik dalam rangka menekankan apa yang ia percaya. Ini adalah
   salah satu harga termahal yang seseorang harus bayar untuk menjadi
   seorang pemimpin.

   Tidaklah mudah untuk bertahan mengahadapi gelombang opini publik
   yang terus menerjang Anda, tapi ada banyak saat ketahanan itu
   diperlukan. Perhatikan pernyataan Yosua bagi orang-orang Israel
   dalam Yosua 24:15: "Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk
   beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu
   akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di
   seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu
   diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada
   TUHAN!"

   Yosua tidak serta-merta menjadi pemimpin hanya karena ia adalah
   pemimpin bangsa; ia menjadi pemimpin karena ia mau bayar harga. Ia
   mau melawan opini publik dalam rangka menyatakan dan menekankan apa
   yang ia percaya.

   Bagaimana dengan Anda -- apakah Anda mau berpegang teguh pada
   keyakinan Anda meski banyak pendapat menentangnya? Atau apakah Anda
   lebih tertarik disukai banyak orang karena Anda ikut-ikut saja
   dengan pendapat mereka?

   Jika Anda berpikir bahwa menjadi seorang pemimpin yang baik berarti
   menyenangkan hati orang banyak, Anda tidak akan pernah berhasil
   menjadi seorang pemimpin. Perumpamaan kuno yang mengatakan bahwa
   "Anda dapat menyenangkan beberapa orang kadang-kadang, namun Anda
   tidak akan dapat menyenangkan semua orang setiap waktu" benar-benar
   sesuai dalam kepemimpinan.

   Ada saat-saat di mana Anda tidak bisa menyukakan siapa pun juga,
   namun itu adalah tugas seorang penghibur untuk menyenangkan hati
   semua orang. Pekerjaan pemimpin adalah menetapkan teladan yang benar
   dan kemudian menantang orang untuk mengikutinya. Dan jika teladan
   yang benar itu tidak disukai banyak orang, seperti Yosua, maka Anda
   harus melawan opini publik.

MENGHADAPI KEGAGALAN
   Kegagalam memiliki konsekuensi yang berbeda bagi setiap orang.
   Misalnya, Anda berharap pengikut Anda terkadang gagal, namun
   pengikut Anda tidak pernah berharap bahwa Anda akan gagal. Pemimpin
   berada di bawah tekanan konstan untuk menjadi sukses. Mereka
   diharapkan untuk selalu berada di garis depan. Banyak orang berpikir
   bahwa mereka akan gagal saat berada dalam posisi kepemimpinan. (Dan
   jika mereka pernah gagal, mereka tidak tahu bagaimana cara
   menangani atau menghadapi kegagalan tersebut.) Namun, semua orang
   pernah gagal -- bahkan para pemimpin besar!

   Abraham gagal (Kej. 12:10-13; 16:1-6). Musa gagal (Kel. 2:11-12;
   Bil. 11:10-23). Daud gagal (2 Sam. 11:1-21). Petrus gagal (Mat.
   26:69-75). Dan Anda dan saya juga gagal.

   Tanda seorang pemimpin yang baik bukanlah karena ia tidak pernah
   gagal. Ujian kepemimpinan yang sebenarnya adalah bagaimana menangani
   kegagalan. Para pemimpin besar dalam Alkitab tersebut di atas
   semuanya pernah gagal. Namun mereka belajar dari kegagalan mereka,
   dan Tuhan terus menggunakan mereka sebagai pemimpin yang efektif.

   Selalu ada risiko dalam kepemimpinan. Pemimpin dihadapkan pada
   kemungkinan yang lebih besar untuk gagal daripada pengikutnya, dan
   hasilnya jauh lebih buruk saat seorang pemimpin gagal daripada
   pengikutnya yang gagal.

MENGUASAI EMOSI
   Pemimpin yang efektif menguasai emosi mereka. Apa pun yang mereka
   rasakan, pemimpin yang baik harus berjuang dengan panduan fakta dan
   prinsip.

   Saat kita mengizinkan emosi mengendalikan kita, kita menjadi lebih
   berisiko melakukan kesalahan dalam menilai sesuatu, bahkan akan
   menghadapi suatu kegagalan yang serius. "Orang yang sabar besar
   pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan."
   (Ams. 4:29) "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari
   situlah terpancar kehidupan." (Ams. 4:23)

   Jika Anda melihat apa yang menyebabkan Abraham, Musa, Daud, dan
   Petrus gagal, Anda akan menemui bahwa dalam suatu perkara, mereka
   mengizinkan emosi mereka mengendalikan keputusan dan mereka menyesal
   telah melakukan sesuatu yang mereka tahu bahwa itu adalah salah.
   Jika mereka tidak membiarkan emosi mengendalikan mereka, mereka
   tidak akan gagal.

   Saat kita mengizinkan emosi mengendalikan kita, kita tidak hanya
   lebih berisiko melakukan kesalahan, tetapi juga pasti akan melakukan
   sesuatu yang akan kita sesali nantinya. Pokok itu dengan jelas
   dinyatakan dalam Yakobus 3:2-5: "... Dan lihat saja kapal-kapal,
   walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat
   dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak juru mudi.
   Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun
   dapat memegahkan perkara-perkara yang besar ...."

   Saat kita mengendalikan emosi, kita dapat mengendalikan lidah kita.
   Dan semakin kita mengendalikan lidah kita, semakin jarang kita
   terlibat masalah.

   Setiap orang harus mengendalikan emosi. Terlebih lagi, pengendalian
   emosi sangat penting bagi seorang pemimpin karena tindakan dan
   reaksinya tidak hanya memengaruhi diri sendiri, tapi juga
   pengikutnya. Pengendalian emosi termasuk mengatakan tidak saat Anda
   benar-benar mengatakan ya.

MENGHINDARI CELAAN
   Seorang pemimpin juga harus menghindari celaan. "Karena itu penilik
   jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri,
   dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap
   mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah,
   pendamai, bukan hamba uang .... Hendaklah ia juga memunyai nama baik
   di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam
   jerat Iblis." (1 Tim 3:2-3,7)

   Memberikan teladan hidup yang baik adalah salah satu harga yang
   harus dibayar seorang pemimpin. Ada banyak hal yang bisa dilakukan
   oleh orang lain, namun pemimpin tidak. Pemimpin harus menghindari
   situasi yang mungkin memberikan kesempatan untuk orang lain
   "berbicara".

   Paulus dengan jelas menjelaskannya dalam Titus 2:7-8, "Dan
   jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.
   Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,
   sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi
   malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan
   tentang kita."

   Paulus juga menerangkan bahwa "Segala sesuatu diperbolehkan". Benar,
   tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan".
   Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorang pun
   yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang
   mencari keuntungan orang lain .... Janganlah kamu menimbulkan syak
   dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat
   Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang
   dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk
   kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat." (1 Kor.
   10:23-24, 32-33)

   Paulus dengan jelas menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus
   menghindari celaan.

MEMBUAT KEPUTUSAN YANG ORANG LAIN TIDAK MAU BUAT
   Pemimpin terkadang harus mengambil keputusan yang orang lain tak mau
   ambil. Seperti orang lain, Anda mungkin tidak ingin mengambil
   keputusan. Anda mungkin tidak mau bertanggung jawab akan hasilnya.
   Anda mungkin tidak tahu keputusan mana yang terbaik. Tapi, seseorang
   harus memutuskan -- dan orang itu adalah pemimpin.

   Salah satu hal terburuk yang dapat Anda lakukan adalah menangguhkan
   keputusan yang harus diambil. Penangguhan akan mengurangi
   kredibilitas Anda dalam memimpin.

   Jangan coba-coba menangguh-nangguhkan keputusan yang harus diambil.
   Harga yang harus dibayar sebagai pemimpin terkadang adalah seorang
   pemimpin harus mengambil keputusan dan menanggung risikonya -- tidak
   peduli kita suka atau tidak.

MENGORBANKAN KEPENTINGAN PRIBADI
   Kehidupan pemimpin bukanlah miliknya sendiri. Pemimpin memiliki
   tanggung jawab besar pada mereka yang dipimpin. Pemimpin sering kali
   harus mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama.

   Karena pemimpin berurusan dengan orang banyak, kebutuhan mereka
   harus menjadi perhatian utama. Terkadang saya benci mendengar dering
   telepon yang saya tahu bahwa yang menelepon adalah orang yang butuh
   menemui saya. Tidak -- aku tidak selalu ingin menjawab telepon itu.
   Ya -- Terkadang saya marah karena ada orang yang mengganggu apa yang
   saya anggap adalah waktu pribadi saya.

   Namun untuk menjadi pemimpin yang efektif, salah satu harga yang
   harus dibayar adalah mengorbankan kepentingan pribadi bagi kebaikan
   bersama.

BERUSAHA MELAKUKAN YANG TERBAIK
   Pemimpin adalah orang yang memimpin, memandu, dan menunjukkan jalan
   bagi yang lain. Pemimpin ada di garis depan memberikan panduan dan
   menetapkan arah.

   Anda tidak bisa menjadi pemimpin jika Anda hanya puas dengan semua
   yang biasa-biasa saja. Anda harus selalu berjuang untuk yang terbaik
   -- baik bagi diri Anda sendiri dan pengikut Anda.

   Yesus Kristus memberikan teladan yang baik bagi pengikut-Nya.
   Perhatikan yang orang katakan tentang-Nya: "Ia menjadikan
   segala-galanya baik." (Mrk. 7:37) Ayat ini juga menyiratkan bahwa
   karena standar tindakan-Nya sangat baik, "Mereka takjub dan
   tercengang." Paulus juga mengatakan hal yang sama, "Apa pun juga
   yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk
   Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kol. 3:23)

   Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita, apalagi pemimpin, harus
   melakukan yang terbaik. Anda tidak bisa melakukan hal yang
   biasa-biasa saja dan mengharapkan bahwa pengikut Anda akan
   melakukan hal yang besar. Jika Anda ingin tahu bagaimana performa
   Anda, lihat seberapa keras pengikut Anda dalam melakukan sesuatu.

HARGAI ORANG LEBIH DARIPADA HARTA
   Telah disebut bahwa pemimpin berurusan dengan orang banyak --
   orang-orang tersebut harus lebih penting daripada harta Anda.

   Orang dan harta tidak dapat duduk bersama pada prioritas utama; Anda
   harus memilih salah satunya. "Karena di mana hartamu berada, di situ
   juga hatimu berada." (Mat. 6:21) Jika Anda menempatkan harta Anda
   pada prioritas utama, di sanalah komitmen Anda tertuju. Anda tidak
   bisa menjadi pemimpin yang efektif kecuali orang banyak adalah
   prioritas Anda.

   Pengikut meneladani pemimpin, jika Anda menetapkan harta sebagai
   prioritas utama dalam memimpin, suatu saat mereka juga akan
   bertindak demikian. Begitu juga sebaliknya, jika Anda menempatkan
   orang banyak sebagai prioritas utama, pengikut Anda juga akan
   bertindak demikian saat mereka memimpin. Sesungguhnya kunci utama
   dalam kepemimpinan untuk mencapai tujuan adalah melalui orang
   banyak, bukan perolehan materi.

JAGA KESEIMBANGAN HIDUP
   Fakta membuktikan bahwa salah satu masalah besar bagi pemimpin
   adalah menjaga keseimbangan hidupnya. Pemimpin harus bekerja lebih
   keras daripada orang lain untuk menjaga keseimbangan hidupnya.

   Anda harus mendisiplinkan diri untuk dapat fokus pada keseimbangan
   dalam hidup. Sangat mudah untuk menghabiskan semua waktu dan tenaga
   dalam memimpin dan tidak menyisakan waktu untuk diri sendiri dan
   keluarga. Itulah mengapa banyak pemimpin Kristen yang bercerai. Anda
   harus belajar untuk santai dan menikmati hidup di luar posisi Anda
   sebagai pemimpin.

   Ingat, sebagai pemimpin, Anda akan diteladani oleh banyak orang.
   Jika hidup Anda tidak seimbang, kehidupan orang yang Anda pimpin
   juga tidak akan seimbang. Orang lain meneladani tindakan Anda, bukan
   perkataan Anda. (t/Dian)
- Sinode GKJ Ping
- Sinode GKJ
- Sabda.org (Alkitab)
- PGI
- UKDW
- UKSW
- IAKM Marturia
- GKI Cyber
- Klasis Yogya Utara
- Gereja Kristen Jawa
- BPK Gunung Mulia
- Kiriman
- Artikel
- Humor
- Wisata & Kuliner
- Tip&Trik Praktis
- Info Buku
- Our Webservants
partner
avast! Virus Cleaner
Website Monitoring
Locations of visitors to this page