GAYA KEPEMIMPINAN
(e-Leadership by Sabda)
KEPEMIMPINAN SEBAGAI SUATU GAYA
Mungkin karena keputusasaan dalam mendefinisikan kepemimpinan, para
teoritis manajemen telah berusaha menggambarkannya dalam gaya. Dalam
menggunakan istilah yang luas seperti itu mereka mencoba
menggambarkan bagaimana orang tersebut bertindak, bukan siapakah
orang tersebut. Bila ada yang berpikir mengenai sejumlah pemimpin
yang Anda kenal secara pribadi, Anda mungkin dapat menyimpulkan
sendiri mengenai gaya mereka. "Ia tipe seorang pemain/pelatih", atau
"Ia seorang primadona", atau "Ia seorang pemain tunggal". Dengan
kata lain, kita cenderung menggolongkan seorang pemimpin berdasarkan
cara ia memimpin menurut cara pandang kita mengenai dia. Dengan
sendirinya, seseorang mungkin berbeda pendapat dengan orang lain
mengenai gaya seorang pemimpin. "Gaya" ternyata merupakan ringkasan
dari bagaimana seorang pemimpin melaksanakan fungsi kepemimpinannya
dan bagaimana ia dilihat oleh mereka yang berusaha dipimpinnya atau
mereka yang mungkin sedang mengamati dari luar.
APA SAJA GAYA KEPEMIMPINAN ITU?
Karena gaya kepemimpinan mencakup tentang bagaimana seseorang
bertindak dalam konteks organisasi tersebut, maka cara termudah
untuk membahas berbagai jenis gaya ialah dengan menggambarkan jenis
organisasi atau situasi yang dihasilkan oleh atau yang cocok bagi
satu gaya tertentu. Perhatian utama kita pada saat ini adalah bagi
mereka yang sudah berada dalam posisi kepemimpinan, ketimbang mereka
yang masih berpikir-pikir mengenai potensi kecakapan mereka. Kita
akan membicarakan lima gaya kepemimpinan: birokratis, permisif
(serba membolehkan), laissez-faire (berasal dari bahasa Perancis
yang sejatinya menunjuk pada doktrin ekonomi yang menganut paham
tanpa campur tangan pemerintah di bidang perniagaan; sementara dalam
praktik kepemimpinan, si pemimpin mengarahkan orang-orang yang
dipimpinnya untuk melakukan apa saja yang mereka kehendaki),
partisipatif, dan otokratis. Kita akan melihat masing-masing gaya
tersebut menurut cara kerja pemimpinnya dalam organisasi.
Birokratis -- Ini adalah satu gaya yang ditandai dengan keterikatan
yang terus-menerus kepada aturan-aturan organisasi. Gaya ini
menganggap bahwa kesulitan-kesulitan akan dapat diatasi bila setiap
orang mematuhi peraturan. Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan
prosedur-prosedur baku. Pemimpinnya adalah seorang diplomat dan tahu
bagaimana memakai sebagian besar peraturan untuk membuat orang-orang
melaksanakan tugasnya. Kompromi merupakan suatu jalan hidup karena
untuk membuat satu keputusan diterima oleh mayoritas, orang sering
harus mengalah kepada yang lain.
Permisif -- Di sini keinginannya adalah membuat setiap orang dalam
kelompok tersebut puas. Membuat orang-orang tetap senang adalah
aturan mainnya. Gaya ini menganggap bahwa bila orang-orang merasa
puas dengan diri mereka sendiri dan orang lain, maka organisasi
tersebut akan berfungsi dan dengan demikian, pekerjaan akan bisa
diselesaikan. Koordinasi sering dikorbankan dalam gaya ini.
Laissez-faire -- Ini sama sekali bukanlah kepemimpinan. Gaya ini
membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin
hanya melaksanakan fungsi pemeliharaan saja. Misalnya, seorang
pendeta mungkin hanya namanya saja ketua dari organisasi tersebut
dan hanya menangani urusan khotbah, sementara yang lainnya
mengerjakan segala pernik mengenai bagaimana organisasi tersebut
harus beroperasi. Gaya ini kadang-kadang dipakai oleh pemimpin yang
sering bepergian atau yang hanya bertugas sementara.
Partisipatif -- Gaya ini dipakai oleh mereka yang percaya bahwa cara
untuk memotivasi orang-orang adalah dengan melibatkan mereka dalam
proses pengambilan keputusan. Hal ini diharapkan akan menciptakan
rasa memiliki sasaran dan tujuan bersama. Masalah yang timbul adalah
kemungkinan lambatnya tindakan dalam menangani masa-masa krisis.
Otokratis -- Gaya ini ditandai dengan ketergantungan kepada yang
berwenang dan biasanya menganggap bahwa orang-orang tidak akan
melakukan apa-apa kecuali jika diperintahkan. Gaya ini tidak
mendorong adanya pembaruan. Pemimpin menganggap dirinya sangat
diperlukan. Keputusan dapat dibuat dengan cepat.
APA ANGGAPAN ORANG TENTANG GAYA-GAYA INI?
Perhatikan bahwa setiap gaya ini sangat tergantung pada pandangan
seseorang terhadap orang banyak dan apa yang memotivasi mereka.
Karena fungsi dari kepemimpinan ialah memimpin, maka membuat orang-
orang ikut sangatlah penting.
Pemimpin yang birokratis percaya bahwa setiap orang dapat setuju
dengan cara yang terbaik dalam mengerjakan segala sesuatu dan bahwa
ada suatu sistem di luar hubungan antarmanusia yang dapat dipakai
sebagai pedoman. Dalam hal ini pedoman tersebut adalah peraturan-
peraturan dan tata cara.
Pemimpin yang permisif ingin agar setiap orang (termasuk pemimpin
itu sendiri) merasa senang. Stres internal dianggap sebagai suatu
hal yang buruk bagi organisasi (dan mungkin tidak Kristiani).
Pemimpin laissez-faire menganggap bahwa organisasinya berjalan
sedemikian baiknya sehingga pemimpin tidak perlu turut campur, atau
menganggap bahwa organisasi tersebut tidak membutuhkan pusat
kepemimpinan.
Pemimpin yang partisipatif biasanya senang memecahkan masalah dan
bekerja sama dengan orang lain. Ia menganggap bahwa orang lain pun
merasakan hal yang sama, dan karena itu, hasil yang paling besar
akan diraih dengan cara bekerja sama dengan mengajak orang lain
turut serta dalam mengambil keputusan dan meraih sasaran.
Pemimpin yang otokratis menganggap bahwa orang-orang hanya akan
melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka dan/atau ia tahu apa
yang terbaik. (Dengan kata lain, ia mungkin tampak sebagai seorang
diktator.)
GAYA MANA YANG TERBAIK?
Gaya setiap pemimpin tentunya berbeda-beda. Demikian juga dengan
para pengikut! Ini merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa
situasi-situasi tertentu menuntut satu gaya kepemimpinan tertentu,
sedangkan situasi lainnya menuntut gaya yang lain pula. Pemimpin
berbeda satu sama lain. Pada suatu waktu tertentu kebutuhan-
kebutuhan kepemimpinan dari suatu organisasi mungkin berbeda dengan
waktu lainnya. Karena organisasi-organisasi akan mendapatkan
kesulitan bila terus-menerus berganti pimpinan, maka para
pemimpinlah yang membutuhkan gaya yang berbeda pada waktu yang
berbeda. Gaya yang cocok sangat tergantung pada tugas organisasi,
tahapan kehidupan organisasi, dan kebutuhan-kebutuhan pada saat itu.
Organisasi-organisasi perlu memperbarui diri mereka sendiri, dan
gaya kepemimpinan yang berbeda seringkali dibutuhkan. Apa contoh-
contoh yang menunjukkan bagaimana tugas organisasi mempengaruhi gaya
kepemimpinan? Dinas pemadam kebakaran tidak dapat bekerja tanpa
kepemimpinan yang bersifat otokrasi. Ketika tiba waktunya bagi
organisasi tersebut untuk bekerja, untuk melaksanakan apa yang telah
dirancang akan dilakukan, kepemimpinan otokrasi merupakan satu
keharusan. Tidak ada waktu untuk duduk dan membahas bagaimana
memadamkan api tersebut. Seorang yang terlatih harus memutuskan bagi
kelompok itu, dan kelompok itu harus mematuhi keputusan tersebut.
Pada waktu kemudian, mungkin ada diskusi yang lebih bebas mengenai
cara mana yang terbaik dipakai di saat lain. Di pihak lain, suatu
kelompok medis mungkin paling baik dijalankan dengan gaya serba
membolehkan. Gaya otokrasi malahan mungkin juga dibutuhkan dalam
organisasi Kristen! Dalam masa-masa krisis, seperti pengungsian
personil misi, atau perlunya mengurangi biaya secara radikal.
SENI MANAJEMEN BAGI PEMIMPIN KRISTEN
Seringkali seorang pemimpin harus bertindak secara sepihak.
Organisasi-organisasi harus melewati tahap-tahap yang berbeda dalam
hidup mereka. Selama periode-periode pertumbuhan dan perkembangan
yang cepat, kepemimpinan otokrasi mungkin akan bekerja dengan baik.
Misalnya, pendiri suatu organisasi Kristen yang baru, atau pendeta
pendiri dari satu gereja, sering merupakan tokoh kharismatik yang
mengetahui secara intuitif apa yang harus dilakukan dan bagaimana
melakukannya. Karena itu adalah visinya, maka ialah yang paling
sanggup untuk menanamkannya kepada orang lain tanpa diskusi. Tetapi
selama periode pertumbuhan yang lambat atau konsolidasi, organisasi
tersebut perlu menyediakan waktu lebih untuk merenung dan berusaha
agar lebih berdaya guna. Kepemimpinan dengan gaya partisipatif
dibutuhkan dalam suatu bisnis yang secara berkala memerlukan
pertimbangan.
MENCOCOKKAN GAYA KE DALAM ORGANISASI
Idealnya, seorang pemimpin harus memiliki berbagai macam gaya. Ia
harus siap menghadapi segala keadaan, berpindah dari musim panas
yang serba membolehkan kepada musim dingin yang banyak tuntutannya.
Memandang hal ini dari sisi organisasi, maka organisasi harus
mengadaptasi suatu strategi untuk efektivitas, dengan
mempertimbangkan kebutuhan dan `produknya`. Sebagian besar
organisasi sukarela dan nirlaba didirikan berdasarkan asumsi adanya
persamaan visi dan sasaran. Mereka memiliki strategi mencari
keberhasilan (untuk mencapai sasaran mereka). Ketika organisasi
tersebut masih baru, pendirinya dapat mengandalkan kekuatan visinya
untuk menarik orang-orang lain yang mempunyai sasaran yang sama.
Namun, pada waktu organisasi itu berhasil, maka cara-cara lain untuk
mempertahankan persamaan visi akan diperlukan. Bila gaya
kepemimpinan tidak disesuaikan sehingga mencakup penyamaan sasaran
dengan peran serta penuh, sering organisasi tersebut akan
mengadaptasi strategi menghindari kegagalan. Ketika organisasi
mencapai ukuran di mana gaya yang bersifat otokratis tidak akan lagi
berfungsi bila pemimpin tidak dapat berpindah ke gaya yang
partisipatif, maka ia sering dipaksa (mungkin tanpa disadari) untuk
mengambil gaya laissez-faire. Sementara itu kepemimpinan lapis kedua
(yang sekarang terpaksa menjalankan organisasi) kemungkinan besar
akan memakai gaya birokratis.
DI MANAKAH ANDA?
Apakah gaya kepemimpinan Anda? Membaca beberapa tulisan mengenai
manajemen secara sepintas lalu mungkin sudah akan menolong Anda
untuk menemukan hal itu. Mudah-mudahan Anda akan menemukan bahwa
Anda telah mempraktikkan gaya-gaya kepemimpinan yang berbeda pada
waktu yang berbeda. Apakah Anda mempunyai bukti bahwa Anda sanggup
mengubah gaya Anda pada waktu dibutuhkan? Atau, sementara Anda
memikirkan mengenai keputusan-keputusan yang telah Anda ambil selama
enam bulan ini, apakah Anda menemukan bahwa keputusan-keputusan
tersebut selalu dibuat dengan cara yang sama (oleh Anda, orang lain,
bersama-sama, atau melalui birokrasi)?
DI MANA ORGANISASI ANDA?
Jenis kepemimpinan apa yang dibutuhkan oleh organisasi Anda sekarang
ini? Apa tugas-tugasnya? Dalam tahap pertumbuhan organisasi yang
seperti apa Anda sekarang ini? Apakah kebutuhan-kebutuhan yang
diperlukan pada saat ini? Analisislah hal ini dengan pertolongan
dewan pengurus, tim kepemimpinan, anggota-anggota Anda, dan lain-
lain. Apakah gaya kepemimpinan yang berbeda dibutuhkan dalam bidang
kehidupan organisasi yang berbeda?
KE MANA ANDA PERGI DARI SINI?
Periksalah kembali kalender pertemuan Anda selama dua minggu
terakhir ini. Apakah yang terjadi dalam rapat-rapat itu? Apakah Anda
pergi ke rapat hanya untuk mengumumkan keputusan Anda sendiri (gaya
otokratis)? Apakah Anda pergi ke rapat dengan harapan dapat bekerja
sama dengan kelompok tersebut untuk mencapai suatu keputusan (gaya
partisipatif)? Apakah Anda berharap untuk duduk bersandar membiarkan
orang lain mengurus masalah yang sedang dihadapi (gaya permisif).
Atau, apakah Anda pergi dengan tekad memakai prosedur baku untuk
memastikan bahwa kapal tersebut tetap tenang tanpa masalah (gaya
birokratis)? Mungkin Anda sama sekali tidak pergi (laissez-faire)!
Bila Anda menemukan bahwa Anda menangani setiap pertemuan dengan
cara yang sama, Anda mungkin terkunci pada satu gaya dan dengan
sadar harus mempertimbangkan untuk mulai berusaha menyesuaikan gaya
Anda sebagai fungsi situasi yang sedang Anda hadapi. Dengan
memutuskan gaya yang akan Anda pakai sebelum rapat, Anda akan
memperoleh kesempatan untuk mengamati respon peserta-peserta rapat
yang lain.
Bila selama ini Anda membatasi diri Anda pada satu gaya saja,
perubahan yang tiba-tiba sering akan membingungkan orang lain.
Mungkin Anda perlu menguraikan dengan sangat jelas peraturan-
peraturan dasar mengenai bagaimana Anda mengantisipasi
berlangsungnya proses pengambilan keputusan tersebut.
Sumber diedit dari:
Judul Buku : Pelayanan sebagai Pemimpin
Penulis : Robert D. Dale
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1992
Halaman : 36-48
===============================><>*<><================================
<>< TIPS KEPEMIMPINAN
-*- MENGEMBANGKAN GAYA KEPEMIMPINAN ANDA -*-
Berikut ini adalah saran-saran saya untuk memadukan gaya
kepemimpinan dengan kebutuhan-kebutuhan organisasional agar dapat
memimpin dengan pengaruh yang besar.
1. Identifikasikan gaya atau gaya-gaya kepemimpinan Anda. Anda bisa
menelaah dari berbagai gaya kepemimpinan yang banyak diuraikan
dalam berbagai buku kepemimpinan. Setelah Anda berhasil
mengidentifikasi gaya kepemimpinan Anda, Anda bisa meminta
pendapat orang-orang terdekat tentang kesimpulan Anda.
2. Tentukan apakah gaya Anda sesuai dengan situasi kepemimpinan saat
ini. Apakah kekuatan kepemimpinan Anda sesuai dengan peran yang
diharapkan dari Anda. Ingat bahwa setiap gaya kepemimpinan
memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.
3. Identifikasikan gaya kepemimpinan setiap anggota tim Anda.
Pastikan agar setiap orang cocok dengan kebutuhan kepemimpinan
yang tepat dan tentukan apakah ada kekosongan di dalam tim yang
perlu diisi.
4. Abdikan diri Anda dengan baik untuk mengembangkan gaya
kepemimpinan yang paling dominan dalam diri Anda maupun gaya
kepemimpinan yang berkembang dalam bidang kepemimpinan yang
selama ini menjadi kelemahan Anda.
Sumber diedit dari:
Judul Buku : Kepemimpinan yang Berani (Courageous Leadership)
Penulis : Bill Hybels
Penerbit : Gospel Press
Hal : 193