jl Kaliurang km 5, gg Pandega Bakti 20 Yogya
- Arti Logo GKJ
- Sejarah
- Jadwal Kebaktian
- Jadwal poliklinik
- Warta Jemaat
- Arsip Liturgi
- Kesaksian
- Komisi Anak
- Komisi Remaja
- Komisi Pemuda
- Komisi Dewasa
- Komisi Adiyuswo
- Komisi PWJ
- Komisi Lainnya
- Berita L P M
- Galeri Foto
- How to find us
 
partner
110mb free hosting


GAYA KEPEMIMPINAN
(e-Leadership by Sabda)

  KEPEMIMPINAN SEBAGAI SUATU GAYA

  Mungkin karena keputusasaan dalam mendefinisikan kepemimpinan, para
  teoritis manajemen telah berusaha menggambarkannya dalam gaya. Dalam
  menggunakan istilah yang luas seperti itu mereka mencoba
  menggambarkan bagaimana orang tersebut bertindak, bukan siapakah
  orang tersebut. Bila ada yang berpikir mengenai sejumlah pemimpin
  yang Anda kenal secara pribadi, Anda mungkin dapat menyimpulkan
  sendiri mengenai gaya mereka. "Ia tipe seorang pemain/pelatih", atau
  "Ia seorang primadona", atau "Ia seorang pemain tunggal". Dengan
  kata lain, kita cenderung menggolongkan seorang pemimpin berdasarkan
  cara ia memimpin menurut cara pandang kita mengenai dia. Dengan
  sendirinya, seseorang mungkin berbeda pendapat dengan orang lain
  mengenai gaya seorang pemimpin. "Gaya" ternyata merupakan ringkasan
  dari bagaimana seorang pemimpin melaksanakan fungsi kepemimpinannya
  dan bagaimana ia dilihat oleh mereka yang berusaha dipimpinnya atau
  mereka yang mungkin sedang mengamati dari luar.

  APA SAJA GAYA KEPEMIMPINAN ITU?

  Karena gaya kepemimpinan mencakup tentang bagaimana seseorang
  bertindak dalam konteks organisasi tersebut, maka cara termudah
  untuk membahas berbagai jenis gaya ialah dengan menggambarkan jenis
  organisasi atau situasi yang dihasilkan oleh atau yang cocok bagi
  satu gaya tertentu. Perhatian utama kita pada saat ini adalah bagi
  mereka yang sudah berada dalam posisi kepemimpinan, ketimbang mereka
  yang masih berpikir-pikir mengenai potensi kecakapan mereka. Kita
  akan membicarakan lima gaya kepemimpinan: birokratis, permisif
  (serba membolehkan), laissez-faire (berasal dari bahasa Perancis
  yang sejatinya menunjuk pada doktrin ekonomi yang menganut paham
  tanpa campur tangan pemerintah di bidang perniagaan; sementara dalam
  praktik kepemimpinan, si pemimpin mengarahkan orang-orang yang
  dipimpinnya untuk melakukan apa saja yang mereka kehendaki),
  partisipatif, dan otokratis. Kita akan melihat masing-masing gaya
  tersebut menurut cara kerja pemimpinnya dalam organisasi.

  Birokratis -- Ini adalah satu gaya yang ditandai dengan keterikatan
  yang terus-menerus kepada aturan-aturan organisasi. Gaya ini
  menganggap bahwa kesulitan-kesulitan akan dapat diatasi bila setiap
  orang mematuhi peraturan. Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan
  prosedur-prosedur baku. Pemimpinnya adalah seorang diplomat dan tahu
  bagaimana memakai sebagian besar peraturan untuk membuat orang-orang
  melaksanakan tugasnya. Kompromi merupakan suatu jalan hidup karena
  untuk membuat satu keputusan diterima oleh mayoritas, orang sering
  harus mengalah kepada yang lain.

  Permisif -- Di sini keinginannya adalah membuat setiap orang dalam
  kelompok tersebut puas. Membuat orang-orang tetap senang adalah
  aturan mainnya. Gaya ini menganggap bahwa bila orang-orang merasa
  puas dengan diri mereka sendiri dan orang lain, maka organisasi
  tersebut akan berfungsi dan dengan demikian, pekerjaan akan bisa
  diselesaikan. Koordinasi sering dikorbankan dalam gaya ini.

  Laissez-faire -- Ini sama sekali bukanlah kepemimpinan. Gaya ini
  membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin
  hanya melaksanakan fungsi pemeliharaan saja. Misalnya, seorang
  pendeta mungkin hanya namanya saja ketua dari organisasi tersebut
  dan hanya menangani urusan khotbah, sementara yang lainnya
  mengerjakan segala pernik mengenai bagaimana organisasi tersebut
  harus beroperasi. Gaya ini kadang-kadang dipakai oleh pemimpin yang
  sering bepergian atau yang hanya bertugas sementara.

  Partisipatif -- Gaya ini dipakai oleh mereka yang percaya bahwa cara
  untuk memotivasi orang-orang adalah dengan melibatkan mereka dalam
  proses pengambilan keputusan. Hal ini diharapkan akan menciptakan
  rasa memiliki sasaran dan tujuan bersama. Masalah yang timbul adalah
  kemungkinan lambatnya tindakan dalam menangani masa-masa krisis.

  Otokratis -- Gaya ini ditandai dengan ketergantungan kepada yang
  berwenang dan biasanya menganggap bahwa orang-orang tidak akan
  melakukan apa-apa kecuali jika diperintahkan. Gaya ini tidak
  mendorong adanya pembaruan. Pemimpin menganggap dirinya sangat
  diperlukan. Keputusan dapat dibuat dengan cepat.

  APA ANGGAPAN ORANG TENTANG GAYA-GAYA INI?

  Perhatikan bahwa setiap gaya ini sangat tergantung pada pandangan
  seseorang terhadap orang banyak dan apa yang memotivasi mereka.
  Karena fungsi dari kepemimpinan ialah memimpin, maka membuat orang-
  orang ikut sangatlah penting.

  Pemimpin yang birokratis percaya bahwa setiap orang dapat setuju
  dengan cara yang terbaik dalam mengerjakan segala sesuatu dan bahwa
  ada suatu sistem di luar hubungan antarmanusia yang dapat dipakai
  sebagai pedoman. Dalam hal ini pedoman tersebut adalah peraturan-
  peraturan dan tata cara.

  Pemimpin yang permisif ingin agar setiap orang (termasuk pemimpin
  itu sendiri) merasa senang. Stres internal dianggap sebagai suatu
  hal yang buruk bagi organisasi (dan mungkin tidak Kristiani).

  Pemimpin laissez-faire menganggap bahwa organisasinya berjalan
  sedemikian baiknya sehingga pemimpin tidak perlu turut campur, atau
  menganggap bahwa organisasi tersebut tidak membutuhkan pusat
  kepemimpinan.

  Pemimpin yang partisipatif biasanya senang memecahkan masalah dan
  bekerja sama dengan orang lain. Ia menganggap bahwa orang lain pun
  merasakan hal yang sama, dan karena itu, hasil yang paling besar
  akan diraih dengan cara bekerja sama dengan mengajak orang lain
  turut serta dalam mengambil keputusan dan meraih sasaran.

  Pemimpin yang otokratis menganggap bahwa orang-orang hanya akan
  melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka dan/atau ia tahu apa
  yang terbaik. (Dengan kata lain, ia mungkin tampak sebagai seorang
  diktator.)

  GAYA MANA YANG TERBAIK?

  Gaya setiap pemimpin tentunya berbeda-beda. Demikian juga dengan
  para pengikut! Ini merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa
  situasi-situasi tertentu menuntut satu gaya kepemimpinan tertentu,
  sedangkan situasi lainnya menuntut gaya yang lain pula. Pemimpin
  berbeda satu sama lain. Pada suatu waktu tertentu kebutuhan-
  kebutuhan kepemimpinan dari suatu organisasi mungkin berbeda dengan
  waktu lainnya. Karena organisasi-organisasi akan mendapatkan
  kesulitan bila terus-menerus berganti pimpinan, maka para
  pemimpinlah yang membutuhkan gaya yang berbeda pada waktu yang
  berbeda. Gaya yang cocok sangat tergantung pada tugas organisasi,
  tahapan kehidupan organisasi, dan kebutuhan-kebutuhan pada saat itu.
  Organisasi-organisasi perlu memperbarui diri mereka sendiri, dan
  gaya kepemimpinan yang berbeda seringkali dibutuhkan. Apa contoh-
  contoh yang menunjukkan bagaimana tugas organisasi mempengaruhi gaya
  kepemimpinan? Dinas pemadam kebakaran tidak dapat bekerja tanpa
  kepemimpinan yang bersifat otokrasi. Ketika tiba waktunya bagi
  organisasi tersebut untuk bekerja, untuk melaksanakan apa yang telah
  dirancang akan dilakukan, kepemimpinan otokrasi merupakan satu
  keharusan. Tidak ada waktu untuk duduk dan membahas bagaimana
  memadamkan api tersebut. Seorang yang terlatih harus memutuskan bagi
  kelompok itu, dan kelompok itu harus mematuhi keputusan tersebut.
  Pada waktu kemudian, mungkin ada diskusi yang lebih bebas mengenai
  cara mana yang terbaik dipakai di saat lain. Di pihak lain, suatu
  kelompok medis mungkin paling baik dijalankan dengan gaya serba
  membolehkan. Gaya otokrasi malahan mungkin juga dibutuhkan dalam
  organisasi Kristen! Dalam masa-masa krisis, seperti pengungsian
  personil misi, atau perlunya mengurangi biaya secara radikal.

  SENI MANAJEMEN BAGI PEMIMPIN KRISTEN

  Seringkali seorang pemimpin harus bertindak secara sepihak.
  Organisasi-organisasi harus melewati tahap-tahap yang berbeda dalam
  hidup mereka. Selama periode-periode pertumbuhan dan perkembangan
  yang cepat, kepemimpinan otokrasi mungkin akan bekerja dengan baik.
  Misalnya, pendiri suatu organisasi Kristen yang baru, atau pendeta
  pendiri dari satu gereja, sering merupakan tokoh kharismatik yang
  mengetahui secara intuitif apa yang harus dilakukan dan bagaimana
  melakukannya. Karena itu adalah visinya, maka ialah yang paling
  sanggup untuk menanamkannya kepada orang lain tanpa diskusi. Tetapi
  selama periode pertumbuhan yang lambat atau konsolidasi, organisasi
  tersebut perlu menyediakan waktu lebih untuk merenung dan berusaha
  agar lebih berdaya guna. Kepemimpinan dengan gaya partisipatif
  dibutuhkan dalam suatu bisnis yang secara berkala memerlukan
  pertimbangan.

  MENCOCOKKAN GAYA KE DALAM ORGANISASI

  Idealnya, seorang pemimpin harus memiliki berbagai macam gaya. Ia
  harus siap menghadapi segala keadaan, berpindah dari musim panas
  yang serba membolehkan kepada musim dingin yang banyak tuntutannya.

  Memandang hal ini dari sisi organisasi, maka organisasi harus
  mengadaptasi suatu strategi untuk efektivitas, dengan
  mempertimbangkan kebutuhan dan `produknya`. Sebagian besar
  organisasi sukarela dan nirlaba didirikan berdasarkan asumsi adanya
  persamaan visi dan sasaran. Mereka memiliki strategi mencari
  keberhasilan (untuk mencapai sasaran mereka). Ketika organisasi
  tersebut masih baru, pendirinya dapat mengandalkan kekuatan visinya
  untuk menarik orang-orang lain yang mempunyai sasaran yang sama.
  Namun, pada waktu organisasi itu berhasil, maka cara-cara lain untuk
  mempertahankan persamaan visi akan diperlukan. Bila gaya
  kepemimpinan tidak disesuaikan sehingga mencakup penyamaan sasaran
  dengan peran serta penuh, sering organisasi tersebut akan
  mengadaptasi strategi menghindari kegagalan. Ketika organisasi
  mencapai ukuran di mana gaya yang bersifat otokratis tidak akan lagi
  berfungsi bila pemimpin tidak dapat berpindah ke gaya yang
  partisipatif, maka ia sering dipaksa (mungkin tanpa disadari) untuk
  mengambil gaya laissez-faire. Sementara itu kepemimpinan lapis kedua
  (yang sekarang terpaksa menjalankan organisasi) kemungkinan besar
  akan memakai gaya birokratis.

  DI MANAKAH ANDA?

  Apakah gaya kepemimpinan Anda? Membaca beberapa tulisan mengenai
  manajemen secara sepintas lalu mungkin sudah akan menolong Anda
  untuk menemukan hal itu. Mudah-mudahan Anda akan menemukan bahwa
  Anda telah mempraktikkan gaya-gaya kepemimpinan yang berbeda pada
  waktu yang berbeda. Apakah Anda mempunyai bukti bahwa Anda sanggup
  mengubah gaya Anda pada waktu dibutuhkan? Atau, sementara Anda
  memikirkan mengenai keputusan-keputusan yang telah Anda ambil selama
  enam bulan ini, apakah Anda menemukan bahwa keputusan-keputusan
  tersebut selalu dibuat dengan cara yang sama (oleh Anda, orang lain,
  bersama-sama, atau melalui birokrasi)?

  DI MANA ORGANISASI ANDA?

  Jenis kepemimpinan apa yang dibutuhkan oleh organisasi Anda sekarang
  ini? Apa tugas-tugasnya? Dalam tahap pertumbuhan organisasi yang
  seperti apa Anda sekarang ini? Apakah kebutuhan-kebutuhan yang
  diperlukan pada saat ini? Analisislah hal ini dengan pertolongan
  dewan pengurus, tim kepemimpinan, anggota-anggota Anda, dan lain-
  lain. Apakah gaya kepemimpinan yang berbeda dibutuhkan dalam bidang
  kehidupan organisasi yang berbeda?

  KE MANA ANDA PERGI DARI SINI?

  Periksalah kembali kalender pertemuan Anda selama dua minggu
  terakhir ini. Apakah yang terjadi dalam rapat-rapat itu? Apakah Anda
  pergi ke rapat hanya untuk mengumumkan keputusan Anda sendiri (gaya
  otokratis)? Apakah Anda pergi ke rapat dengan harapan dapat bekerja
  sama dengan kelompok tersebut untuk mencapai suatu keputusan (gaya
  partisipatif)? Apakah Anda berharap untuk duduk bersandar membiarkan
  orang lain mengurus masalah yang sedang dihadapi (gaya permisif).
  Atau, apakah Anda pergi dengan tekad memakai prosedur baku untuk
  memastikan bahwa kapal tersebut tetap tenang tanpa masalah (gaya
  birokratis)? Mungkin Anda sama sekali tidak pergi (laissez-faire)!

  Bila Anda menemukan bahwa Anda menangani setiap pertemuan dengan
  cara yang sama, Anda mungkin terkunci pada satu gaya dan dengan
  sadar harus mempertimbangkan untuk mulai berusaha menyesuaikan gaya
  Anda sebagai fungsi situasi yang sedang Anda hadapi. Dengan
  memutuskan gaya yang akan Anda pakai sebelum rapat, Anda akan
  memperoleh kesempatan untuk mengamati respon peserta-peserta rapat
  yang lain.

  Bila selama ini Anda membatasi diri Anda pada satu gaya saja,
  perubahan yang tiba-tiba sering akan membingungkan orang lain.
  Mungkin Anda perlu menguraikan dengan sangat jelas peraturan-
  peraturan dasar mengenai bagaimana Anda mengantisipasi
  berlangsungnya proses pengambilan keputusan tersebut.

  Sumber diedit dari:
  Judul Buku   : Pelayanan sebagai Pemimpin
  Penulis      : Robert D. Dale
  Penerbit     : Gandum Mas, Malang, 1992
  Halaman      : 36-48

===============================><>*<><================================
<>< TIPS KEPEMIMPINAN

             -*- MENGEMBANGKAN GAYA KEPEMIMPINAN ANDA -*-

  Berikut ini adalah saran-saran saya untuk memadukan gaya
  kepemimpinan dengan kebutuhan-kebutuhan organisasional agar dapat
  memimpin dengan pengaruh yang besar.

  1. Identifikasikan gaya atau gaya-gaya kepemimpinan Anda. Anda bisa
     menelaah dari berbagai gaya kepemimpinan yang banyak diuraikan
     dalam berbagai buku kepemimpinan. Setelah Anda berhasil
     mengidentifikasi gaya kepemimpinan Anda, Anda bisa meminta
     pendapat orang-orang terdekat tentang kesimpulan Anda.

  2. Tentukan apakah gaya Anda sesuai dengan situasi kepemimpinan saat
     ini. Apakah kekuatan kepemimpinan Anda sesuai dengan peran yang
     diharapkan dari Anda. Ingat bahwa setiap gaya kepemimpinan
     memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

  3. Identifikasikan gaya kepemimpinan setiap anggota tim Anda.
     Pastikan agar setiap orang cocok dengan kebutuhan kepemimpinan
     yang tepat dan tentukan apakah ada kekosongan di dalam tim yang
     perlu diisi.

  4. Abdikan diri Anda dengan baik untuk mengembangkan gaya
     kepemimpinan yang paling dominan dalam diri Anda maupun gaya
     kepemimpinan yang berkembang dalam bidang kepemimpinan yang
     selama ini menjadi kelemahan Anda.

  Sumber diedit dari:
  Judul Buku      : Kepemimpinan yang Berani (Courageous Leadership)
  Penulis         : Bill Hybels
  Penerbit        : Gospel Press
  Hal             : 193


- Sinode GKJ Ping
- Sinode GKJ
- Sabda.org (Alkitab)
- PGI
- UKDW
- UKSW
- IAKM Marturia
- GKI Cyber
- Klasis Yogya Utara
- Gereja Kristen Jawa
- BPK Gunung Mulia
- Kiriman
- Artikel
- Humor
- Wisata & Kuliner
- Tip&Trik Praktis
- Info Buku
- Our Webservants
partner
avast! Virus Cleaner
Website Monitoring
Locations of visitors to this page