jl Kaliurang km 5, gg Pandega Bakti 20 Yogya
 
29-Oct-2008 15:15
 
- Arti Logo GKJ
- Sejarah
- Jadwal Kebaktian
- Jadwal poliklinik
- Warta Jemaat
- Arsip Liturgi
- Kesaksian
- Komisi Anak
- Komisi Remaja
- Komisi Pemuda
- Komisi Dewasa
- Komisi Adiyuswo
- Komisi PWJ
- Komisi Lainnya
- Berita L P M
- Galeri Foto
 
partner
110mb free hosting
 

Hari itu Tuhan mengajariku bersyukur

Oleh: Setyo Pantoro

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1983/84, saat saya bekerja di Foster Parent Plan (FPP) Int, yaitu NGO international dengan status konsultatip dengan ESCAP Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Di Yogyakarta lembaga ini lebih dikenal dengan nama Pembinaan Kesejahteraan Anak dan Keluarga (PKAK) yakni nama anugerah dari Sri Paduka Paku Alam VIII.

Bulan Agustus 1978 saya mulai bekerja menjadi karyawan PKAK dengan posisi sebagai Junior Social Worker, dan bertugas untuk membantu Social Worker melakukan identifikasi dan inventarisasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi keluarga binaan di bidang kesehatan, pendidikan dan perekonomian. Sedangkan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh keluarga binaan tersebut dilakukan oleh Social Worker dan Tim Koordinator.

Saat masuk menjadi karyawan PKAK saya sudah menyandang gelar Sarjana Muda Pendidikan Sosial IKIP Negeri Yogyakarta, yang seharusnya sudah mencukupi persyaratan menjadi Sosial Worker. Namun karena lowongan yang ada saat itu hanya untuk posisi Junior Social Worker tetap saja saya ambil, mengingat ayah saya pada bulan Agustus 1978 itu juga telah memasuki pensiun, sementara saya dan enam orang adik masih menempuh pendidikan di SLA dan Perguruan Tinggi.

Saya masih ingat betul, bahwa pesaing saya untuk dapat menjadi karyawan PKAK waktu itu sebanyak 62 (enam puluh dua) orang, dan hanya 2 (dua) orang yang akan diterima. Namun keberuntungan nampaknya berpihak pada diri saya, saya diterima dan tanggal 18 Agustus 1978 saya mulai bekerja di PKAK Kantor Cabang Utara Tim III, yang mempunyai wilayah Kecamatan Cangkringan dan Kecamatan Pakem. Tentu saja tetap nyambi kuliah.

Setiap hari saya harus berkantor terlebih dahulu ke Kantor Cabang di Jalan Magelang untuk mengambil beberapa pekerjaan, kemudian berangkat kekantor tim di Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan dengan menggunakan sebuah sepeda motor Yamaha Trail, yang kemudian pindah di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem.

Tiga bulan kemudian PKAK membutuhkan beberapa orang Social Worker, dan merupakan kebiasaan setiap terdapat lowongan dibuka untuk umum. Saya sebagai orang dalam juga mengikuti test bersama-sama dengan peserta dari luar. Tidak kurang dari 300 (tiga ratus) orang yang mengikuti test saat itu, dan kali ini keberuntungan juga berpihak pada diri saya. Saya diterima dan tetap ditempatkan di Kantor Cabang Utara Tim III. Tanggung jawab saya semakin besar, dan oleh karena itu saya juga mempunyai pasangan seorang Junior Social Worker.

Waktu berjalan terus, saya pun mulai diberi kepercayaan untuk kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan Kantor Pusat (saat itu berkantor di Jogokaryan), Kantor Cabang Selatan, Kantor Cabang Gunungkidul dan Kantor Cabang Utara sendiri. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain, kepanitiaan dalam rangka ulang tahun PKAK, pengurus koperasi karyawan PKAK dan dewan redaksi bulletin PKAK.

Hari itu cuaca sebentar hujan, sebentar panas datang silih berganti. Dalam cuaca seperti itu, kurang lebih jam 13.00 WIB saya memacu sepeda motor Yamaha trail saya dari mengunjungi salah satu keluarga binaan yang menjadi tanggung jawab saya di desa Kinaharjo (desanya mbah Marijan), menuju Kantor Pusat di Jogokaryan untuk rapat dewan redaksi bulletin PKAK pada jam 14.00 WIB. Sesampainya di Selatan kota Pakem, saya merasakan sebuah mobil meledek saya dari arah belakang. Setiap pengemudi membunyikan klakson, saya memperlambat laju sepeda motor dan menepi untuk memberi kesempatan bagi mobil di belakang saya mendahului. Namun si pengemudi mobil justru ikut memperlambat mobilnya. Begitu berulang ulang sampai terjadi sebanyak 3 (tiga) kali. Hati saya mulai panas, dan melalui kaca spion saya memperhatikan pengemudi mobil tersebut lebih serius. Dari kaca spion saya melihat si pengemudi tertawa-tawa dan melambaikan tangan. Sampai di dekat kantor Camat Ngaglik, saya menghentikan sepeda motor saya, demikian pula si pengemudi mobil.
Tidak lama kemudian si pengemudi mobil turun dan mendekati saya dan, . . . . . . astaga ternyata ia kakak kelas saya waktu di SMA Wonosari dan saat itu ia telah menjadi Camat di salah satu Kecamatan di Kabupaten Gunungkidul. Pantas saja mobil yang dipakai mobil camat. Sewaktu di SMA hubungan saya dengan dia cukup akrab. Setelah kami berbincang sesaat, kamipun berpisah. Dia mendahului saya dan sayapun kembali berpacu dengan Yamaha trail di tengah cuaca yang muali hujan kembali.
Dalam perjalanan hati saya berontak, saya melakukan protes kepada Tuhan karena tidak adil. Yang saya pikirkan waktu itu, kenapa saya dan dia bersahabat, namun Tuhan memberikan dia kenikmatan yang lebih baik dibanding saya. Dalam keadaan hujan yang semakin lebat dia naik mobil dan dapat melaju tanpa gangguan berarti. Sementara saya naik Yamaha trail, dan pakai mantel yang tidak dapat menutupi celana panjang dan sepatu saya. Pikiran itu terus berkecamuk sampai saya tiba di Jogokaryan yang ternyata cuacanya terang benderang.

Sewaktu saya selesai memarkir sepeda motor dan akan masuk kedalam kantor, saya bertemu dengan kakak kelas saya yang lain sewaktu di SMA. Kakak kelas saya ini dulu seangkatan dengan kakak kelas saya yang telah menjadi camat. Kamipun bersalaman dan saling menanyakan keadaan masing-masing. Selanjutnya saya menanyakan maksud kedatangan dia di kantor PKAK. Dengan sedikit malu-malu dia menjelaskan akan mengikti test sebagai pengemudi dan minta bantuan saya agar dapat diterima.
Mendengar jawabannya, tanpa saya sadari tas yang saya bawa jatuh. Di satu sisi, saya teringat pikiran dan perasaan saya sehabis bertemu dengan kakak kelas yang sudah berhasil menjadi camat. Namun pada sisi yang lain, pikiran dan perasaan saya dihadapkan dengan keadaan kakak kelas saya lainnya yang akan mengikuti test pengemudi. Di luar kesadaran saya, saya berucap lirih, “ternyata saya lebih beruntung”
Saat itulah hati saya terbuka dan mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Tuhan Yesus. Pertama karena Tuhan telah memberi kemudahan dan kenikmatan yang tidak kecil selama ini. Kedua, saya juga bersyukur sebab Tuhan sebab hari itu juga Tuhan telah membuat saya sadar dan mengajari untuk selalu bersyukur, karena masih ada teman, saudara, bahkan sesama yang kurang seberuntung saya.
Dengan peristiwa ini, saya jadi teringat akan wejangan ayah dan ibu ; “ojo ndangak, nanging ndingkluka” atau “jangan hanya melihat keatas, tetapi lihatlah juga yang di bawah”. Masksudnya supaya kita selalu dapat bersyukur.

Yogyakarta, 16 Oktober 2008.

setyo&fam
Setyo Pantoro, pemerhati web Sarimulyo.
Warga GKJ Sawokembar Gondokusuman
- Sinode GKJ
- Sabda.org (Alkitab)
- UKDW
- UKSW
- IAKM Marturia
- GKI Cyber
- Christian.com
- Artikel
- Humor
- Wisata & Kuliner
- Tip&Trik Praktis
- How to find us
- Our Webservants